Urgensi Sebuah Visi Membangun Keluarga Islami

Share on facebook
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Para Peserta Kajian

“Sudahkah kita mempunyai visi keluarga Islami bu? Saat awal-awal menikah?“, tanya Ustadz Endang Setiawan, alhafizh pada kesempatan Kajian Rutin bagi orang tua di Madrasah Qur’an Ibnu Hajar cabang Timah. Hampir semua hadirin yang mengikuti acara tersipu tersenyum kecil mendapatkan pertanyaan seperti  itu. Pertanyaan ini bukan tanpa sebab, bahwa adanya sebuah visi dalam keluarga maka mampu menjadi penentu kemana arah sebuah bahtera keluarga akan berlayar dan apa yang hendak dicapai.

                Ibarat suatu kelompok yang akan melaksanakan safar, maka teranglah tujuannya akan kemana. Moda transportasi apa yang akan digunakan nantinya, dan tiket mana yang perlu dipersiapkan menuju keberangkatannya. Maka disitulah letak visi, memperjelas kemana hati dan kaki perlu melangkah. Jika berkeluarga tanpa memiliki visi, lantas apa bedanya kita dengan makhluk lain yang juga diciptakan berpasang-pasangan ? “ Maka bangunlah visi itu sedari sekarang bu, komunikasikan dengan suami “, himbau Ustadz kepada para hadirin.

                Kajian Orang Tua kali ini juga memperjelas sebuah contoh nyata, tentang keluarga para Nabi yang patut dijadikan teladan, serta diambil pelajaran darinya. Tentang suksesnya Nabi Ibrahim a.s mendidik para anak lelakinya, dan bagaimana Nabi Muhammad SAW mendidik anak-anak perempuannya. Juga terkait keluarga Nabi Nuh dengan anaknya Kan’an, atau kisah gundahnya seorang wanita yang dijamin masuk syurga lantaran sang suami, Fir’aun mengaku tuhan semesta alam.

Keshalihan Anak Dimulai Dari Keshalihan Orang Tua

                Dari semua kisah ini, Ustadz Endang Setiawan menyampaikan begitu banyaknya hikmah dan ibroh tentang perlunya sebuah sinkronisasi atau penyelerasan keshalihan para orang tua yang pastinya amat berdampak pada keshalihan anak. 

Perlulah para orang tua bermuhasabah, merenungi kapasitas diri. Sudah sejauh apa ketaatan kita pada Allah, kenapa anak-anak sulit diatur, lemah dalam belajar serta imannya. Sudah barang tentu, yang perlu dikoreksi pertama kali adalah kita sebagai orang tua.  Berapa kali tertinggal shalat berjamaah, lemahnya kualitas tilawah Qur’an, abai akan halalnya konsumsi bagi keluarga dan lain sebagiannya.

                Dalam kesempatan kali ini pula Ustadz menjelaskan, bahwa kunci suksesnya sebuah keluarga islami amat ditentukan oleh ayah sebagai kepala keluarga. Maka dijelaskan, ciri ayah yang shalih akan terpancar dari wajahnya serta wajah anak-anaknya. Ialah ayah yang saat perginya membuka begitu lebar ruang rindu, dan kembalinya amat sangat dinanti-nanti dengan hati. Ialah ayah yang shalih, yang nasehatnya senatiasa lekas didengar dan dilaksanakan, tanpa perlu diulang-ulang.

                Berangkat dari mantapnya sebuah konsep tauhid seorang Nabiullah Ibrahim, mengantarkan beliau menjadi pemuda juga sosok seorang ayah yang berhasil mendidik anak-anak shalihnya, anak-anak yang kelak menjadi penyejuk mata serta pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Kajian pun diakhiri , tepat saat waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Kajian kali ini sukses menyampaikan  sesi tentang  pentingnya sebuah visi keluarga islami  serta peran penting ayah terhadap keshalihan keluarganya. Semoga ini senantiasa mampu menjadi motivasi kita, untuk terus berusaha membangun sebuah keluarga yang mendapatkan keberkahan Allah Ta’ala, aamiin.

Para Peserta Kajian

Leave a Replay

Tentang Kami

Yayasan Ibnu Hajar Cendekia adalah lembaga pendidikan berbasis Al-Qur’an mulai anak-anak usia dini 3.5 tahun, hingga usia dewasa. Berpusat di Depok, Jawa Barat.

Kiriman Terbaru

Ikuti Kami

One Minute Booster

WhatsApp Hubungi Kami